Jumat, 12 April 2013

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DAN TANTANGANNYA DI INDONESIA


PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DAN TANTANGANNYA DI INDONESIA

A.    Tujuan Pendidikan Multikultural
1.   Berupaya mengajak mahasiswa untuk menerima perbedaan yang ada pada sesama manusia sebagai hal-hal yang alamiah.
2.   Menanamkan kesadaran mahasiswa akan keragaman,kesetaraan,kemanusiaan,keadilan, dan nilai-nilai demokrasi yang diperlukan dalam beragam aktivitas sosial.
3.   Pendidikan multikultural diperlukan untuk memperluas pandangan seseorang tentang kebenaran yang tidak dimonopoli dirinya sendiri atau kelompoknya,tetapi dapat juga dimiliki yang lain.


B.     Multikultural di Indonesia

            Secara geografis kepulauan Indonesia berada di antara dua benua dan dua samudera yang dikenal dunia sebagai tempat pertukaran budaya. Sejak lama nusantara menjadi tempat bertemunya budaya-budaya besar seperti halnya budaya Hindu,Cina,Islam,dan Barat. Oleh karena itu,globalisasi tidak hanya merupakan proses yang terjadi di lingkup perdagangan,tetapi juga berada pada lingkup budaya,sosial serta lingkup politik. Sebagai realitasnya pendidikan multikutural bukan merupakan sebuah pemikiran baru untuk penduduk yang tinggal di Nusantara.
            Oleh karena itu,negara Indonesia sejak tahun 1945 menciptakan sebuah masyarakat yang diimpikan yakni sebuah negara besar yang berbasis multikultural. Hal ini tersurat pada motto Bhinneka Tunggal Ika yang secara populer dimaknai “berbeda-beda tetapi tetap satu” berarti bahwa kita memimpikan sebuah Negara Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
            Multikultural yang berkembang sedemikian cepat di seluruh  pelosok dunia diperkenalkan melalui latar sejarah dan kepentingan yang berbeda. Gambaran mengenai multikultural terbatas pada pengenalan mengenai keberagaman di dalam masyarakat. Multikultural di Indonesia cenderung memprioritaskan kepentingan kelompok di dalam praktek demokrasi.
            Multikultural normatif adalah petunjuk tentang berbagi kepentingan yang membimbing pada pengakuan yang lebih tinggi mengenai kebangsaan dan identitas kelompok yang berbeda di dalam masyarakat.
            Multikultural normatif di Indonesia pertama kali diamanatkan di dalam UUD 1945. Ketentuan di dalam UU menyatakan bahwa rakyat dan bangsa Indonesia mencakupi berbagai kelompok etnis,mereka telah berbagi komitmen dalam membangun bangsa Indonesia. Penghargaan terhadap keberagaman rakyat Indonesia dicerminkan dalam simbol Garuda Pancasila yang berarti bahwa keberadaan kehidupan bangsa memerlukan toleransi.
            Kita mengenali berbagai kelompok budaya dan etnis di Indonesia dan kita setuju membangun sebuah bangsa dengan satu bahasa yang multikultural yang bersifat normatif kita melakukan penelitian untuk membentuk operasional yang pantas untuk masing-masing kawasan dalam suatu negara.
            Konsep multikultural normatif menentukan polarisasi dari dua kutub yang tidak tampak bertentangan yaitu di suatu pihak Negara Kesatuan Republik Indonesia,sementara itu di pihak lain terdapat keanekaragaman suatu bangsa. Polarisasi semacam ini menjadikan dinamika yang alami. Artinya bahwa di dalam pengembangan budaya,tradisi,dan bahasa masing-masing menghormati kelompok suku bangsa.
            Bagaimanapun hubungan pada keperluan untuk sumber daya manusia,negara,pendidikan dan sektor lain yang secara nasional relevan dengan perekrutan harus dipertanggungjawabkan oleh pemerintah pusat. Oleh karena itu,pendidikan multikultural dapat berkembang menjadi saluran Chauvinisme yang potensial sebagai promosi yang negatif dari sebuah suku bangsa.


C.     Tantangan Pendidikan Multikultural dan Pemecahan Masalahnya

            Multikultural di Indonesia bersifat normatif. Multikultural normatif adalah petunjuk tentang berbagai kepentingan yang membimbing pada pengakuan yang lebih tinggi mengenai kebangsaan dan identitas kelompok yang berbeda di dalam masyarakat. Multikultural normatif di Indonesia pertama kali di amanatkan dalam UUD RI 1945. Ketentuan di dalam UU menyatakan bahwa rakyat dan bangsa Indonesia mencakupi berbagai kelompok etnis. Mereka telah berbagi komitmen dalam membangun bangsa Indonesia.
            Di dalam pendidikan multikultural terletak tanggung jawab besar untuk pendidikan nasional. Tanpa pendidikan yang difokuskan pada pengembangan perspektif multikultural dalam kehidupan adalah tidak mungkin untuk menciptakan keberadaan aneka ragam budaya di masa depan dalam masyarakat Indonesia. Multikultural hanya dapat disikapi melalui pendidikan nasional. Ada tiga tantangan besar dalam melaksanakan pendidikan multikultural di Indonesia,yaitu:

1.      Agama, Suku Bangsa dan Tradisi
            Agama secara aktual merupakan ikatan yang terpenting dalam kehidupan orang Indonesia sebagai suatu bangsa. Bagaimanapun juga hal itu akan menjadi perusak kekuatan masyarakat yang harmonis ketika hal itu digunakan sebagai senjata politik atau pada etnis atau tradisi kehidupan dari sebuah masyarakat. Masing-masing individu telah menggunakan prinsip agama untuk menuntun dirinya dalam kehidupan di masyarakat, tetapi tidak berbagi keyakinan agamanya pada pihak lain. Hal ini hanya dapat dilakukan melalui pendidikan multikultural untuk mencapai tujuan dan prinsip seseorang dalam menghargai agama. Sekolah umum (formal) ditambah pendidikan agama yang bertujuan memberikan toleransi dan kepercayaan anggota masyarakat yang lain yang berbeda keyakinan agamanya. Salah satu contoh dari toleransi beragama adalah ketika bulan ramadhan, siswa muslim melakukan ibadah puasa dan siswa non muslim dapat menghargai siswa muslim dengan cara tidak makan atau tidak minum di depannya.

2.      Kepercayaan
            Unsur yang penting dalam kehidupan bersama adalah kepercayaan. Dalam masyarakat yang plural selalu memikirkan resiko terhadap berbagai perbedaan. Munculnya resiko dari kecurigaan/ketakutan atau ketidakpercayaan terhadap yang lain,dapat juga timbul ketika tidak ada komunikasi di dalam masyarakat plural. Dalam hal ini dapat diatasi dengan cara memberi sebuah keyakinan (pengertian yang lebih baik tentang perbedaan) yang dapat dilakukan melalui komunikasi dan dialog serta membuka diri atau partisipasi terhadap yang lain. Ketika kita memberikan keyakinan pada seseorang itu berarti bahwa kita mengurangi resiko dalam kehidupan dan kita dapat saling berbagi satu sama lain.
3.      Toleransi
            Toleransi merupakan bentuk tertinggi, bahwa kita dapat mencapai keyakinan. Toleransi dapat menjadi kenyataan ketika kita mengasumsikan adanya perbedaan. Keyakinan adalah sesuatu yang dapat diubah. Sehingga dalam toleransi, tidak harus selalu mempertahankan keyakinannya. Untuk mencapai tujuan sebagai manusia Indonesia yang demokratis dan dapat hidup di Indonesia diperlukan pendidikan multikultural.


D.    Tantangan Pendidikan Multikultural di Indonesia dan Pemecahannya
            Anita Lie menyebutkan bahwa pendidikan multikultural di Indonesia,khususnya dalam pendidikan formal menghadapi tiga tantangan mendasar sebagai berikut.
1.      Fenomena Homogenisasi
            Fenomena homogenisasi terjadi dalam dunia pendidikan akibat tarik ulur antara keunggulan dan keterjangkauan. Para siswa tersegresi dalam sekolah-sekolah sesuai latar belakang sosio-ekonomi, agama,dan etnisitas. Apalagi pasal yang mengatur pendidikan agama dalam UU No.20/2003 membuat sekolah berafiliasi agama merasa enggan menerima siswa tidak seagama. Lalu terjadi pengelompokkan anak berdasar agama, kelas sosio-ekonomi,ras,dan suku. Tiap hari anak-anak bergaul dan berinteraksi hanya dengan teman segolongan. Jika interaksi di luar sekolah juga demikian, peng Laman anak-anak untuk memahami dan menghargai perbadaan menjadi amat langka.

2.      Kurikulum
            Penelitian Lie pada tahun 2001 atas kurikulum 1994, dengan menganalisis isi 823 teks bacaan dalam 44 buku ajar bahasa Inggris yang digunakan di SMA berdasar gender, status ekonomi, kultur lokal,dan geografi. Dalam keempat kategori itu, buku-buku ini masih menunjukkan ketidakseimbangan dan bias yang amat membatasi kesadaran multikultural peserta didik. Ungkapan “Y ou are what you read (Anda dibentuk oleh apa yang Anda baca)” perlu melandasi penyusun kurikulum. Jika siswa disodori bahan-bahan pelajaran yang mengandung bias (kelas, gender, etnis, agama,dan suku), maka siswa akan tumbuh menjadi manusia dengan praduga dan prasangka negatif terhadap orang lain yang berbeda. Keberagaman dan kekayaan budaya Nusantara diakomodasi dalam kurikulum hanya sebatas ikon dan simbol budaya seperti pakaian, kesenian daerah, dan stereotip suku.

3.      Guru
            Kelayakan dan kompetensi guru di Indonesia umumnya masih di bawah standar apalagi untuk mengelola pembelajaran multikulturalisme. Oleh sebab itu, untuk melaksanakan pendidikan multikultural banyak pekerjaan rumah yang harus digarap mulai dari rancangan integrasi kurikulum , standardisasi buku dan materi, pengembangan materi dan kurikulum, pengembangan profesional dan pelatihan guru, rancangan kegiatan, hingga rancangan monitoring dan evaluasi.


E.     Implikasi Makna Pendidikan Multikultural, Sejarah dan Karakteristik Problematika  Multikultural terhadap Pengembangan Pendidikan Multikultural di Indonesia
1.      Makna Pendidikan Multikultural dan Implikasinya terhadap Pengembangan Pendidikan Multikultural
a.      Pendidikan Multikultural
Pendidikan Multikultural sebagai ide adalah suatu filsafat yang menekankan legitimasi, vitalitas dan pentingnya keragaman sosial, etnis dan ras, gender, anak yang berkebutuhan khusus, agama, bahasa, dan usia dalam membentuk kehidupan individu, kelompok, dan bangsa. Sebagai sebuah ide, maka Pendidikan multikultural ini harus mengenalkan pengetahuan tentang berbagai kelompok dan organisasi yang menentang penindasan dan eksploitasi dengan mempelajari hasil karya dan ide yang mendasari karyanya (Sizemore,1981). Implikasinya terhadap pengembangan Pendidikan Multikultural adalah pemasukan bahan ajar yang berisi ide dari berbagai kelompok budaya. Pendidikan memang mengajarkan nilai-nilai budayanya sendiri, namun selain itu juga perspektif dan budaya orang lain di wilayah orang lain di seluruh dunia. Hal ini dapat membuat siswa “melek budaya” (cultural literacy) yang mampu melihat berbagai sudut pandang budaya yang pernah hidup di berbagai belahan dunia.

b.      Pendidikan Multikultural sebagai Gerakan Reformasi Pendidikan
Pendidikan Multikultural dapat dipandang sebagai suatu gerakan reformasi yang mengubah semua komponen pendidikan,yaitu :
*       Nilai-nilai yang mendasari,
*       Aturan Prosedural,
*       Kurikulum,
*       Bahan ajar,
*       Struktur organisasi, dan
*       Pola Kebijakan.

Nilai-nilai yang mendasari, aturan prosedural, kurikulum, bahan ajar, struktur organisasi, dan pola kebijakan pendidikan perlu dirombak agar mencerminkan budaya Indonesia yang pluralistik. Pendidikan Multikultural juga dipandang sebagai suatu pendekatan belajar dan mengajar yang didasarkan pada nilai-nilai demokratis yang mengedepankan pluralisme budaya, dalam bentuknya yang paling komprehensif.

c.       Pendidikan Multikultural sebagai Proses
Pendidikan multikultural merupakan suatu proses yang terus menerus yang membutuhkan investasi waktu jangka panjang di samping aksi yang terencana dan dimonitor secara hati-hati (Banks&Banks,1993). Dari ASCD Komisi Pendidikan Multikultural (Di dalam Grant,1997b:3) ada beberapa ide utama yang bisa kita ambil:
*       Pendidikan Multikultural berhubungan dengan konsep humanistic. Konsep yang didasarkan pada kekuatan dari keragaman, HAM, keadilan sosial, dan gaya hidup.
*       Pendidikan multikultural mengarah pada pencapaian pendidikan yang berkualitas.
*       Melibatkan segala upaya untuk memenuhi  seluruh budaya siswa.
*       Memandang masyarakat pluralistis sebagai kekuatan positif.
*       Perbedaan adalah wahana memahami masyarakat global.



Nieto (1992) memandang Pendidikan multikultural terkait dengan:
*       Reformasi sekolah dan pendidikan dasar yang komprehensif untuk semua siswa.
*       Penentangan terhadap semua diskriminatif
*       Penyerapan pelajaran dan hubungan interpersonal di kelas
*       Penonjolan prinsip-prinsip demokrasi dan keadilan sosial

Menurut Banet definisi pendidikan multikultural mencakup dimensi:
*       Gerakan persamaan (yang dalam konsep Banks disebut gerakan reformasi pendidikan)
*       Pendekatan multikultural
*       Proses menjadi multikultural
*       Komitmen memerangi prasangka dan diskriminasi


2.      Sejarah Pendidikan Multikultural dan Implikasi terhadap Pengembangan Pendidikan dan Diskriminasi
            Pendidikan multikultural timbul dari munculnya gerakan hak-hak sipil di Amerika tahun 1960-an yang mulai menyadari dan menuntut hak yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tujuan utamanya menghilangkan diskriminasi dalam akomdasi umum, perumahan, tenaga kerja, dan pendidikan. Gerakan hak-hak sipil ini berimplikasi terhadap:
a.        Berdirinya lembaga pendidikan bagi kelompok etnis
b.        Reformasi kurikulum
c.         Kenaikan upah bagi guru dan administrator sekolah kulit hitam dan berwarna lain
d.        Adanya kontrol masyarakat terhadap sekolah
e.        Revisi buku teks agar merefleksikan keberagaman orang di Amerika Serikat





3.      Karakteristik Problematika Multikultural Indonesia dan Implikasinya terhadap Pengembangan Pendidikan Multikultural
Faktor-faktor yang melatarbelakangi semua pertikaian di tanah air selama ini disebabkan oleh :
a.        Kuatnya prasangka, etnosentrisme, stereotip, dan diskrimunatif antar kelompok
b.        Merosotnya rasa kebersamaan dan peraturan dan saling pengertian
c.         Aktivitas politis identitas kelompok/daerah di dalam era reformasi
d.        Tekanan sosial ekonomi

                        Ada tiga kelompok pemikiran yang biasa berkembang di Indonesia dalam menyikapi konflik yang sering muncul. Pertama, pandangan kaum primordialis. Kelompok ini menganggap perbedaan-perbedaan yang berasal dari ikatan primordial seperti suku, ras, agama, dan antar golongan merupakan sumber utama lahirnya benturan-benturan kepentingan. Kedua, pandangan kaum instrumentalis. Menurut mereka suku, agama dan identitas yang lain dianggap sebagai alat saja, yang digunakan individu atau kelompok tertentu untuk mengejar tujuan yang lebih besar, baik dalam bentuk materiil maupun non materiil. Ketiga, kaum kontruktivis yang beranggapan bahwa identitas kelompok tidak bersifat kaku, sebagaiman yang dibayangkan kaum primordialis. Bagi mereka, persamaan adalah anugerah dan perbedaan adalah berkah. Diantara ketiganya, kelompok ketiga ini yang berpikir positif tentang kondisi multikultural Indonesia.

F.     Prinsip Pengembangan Pendidikan  Multikultural di Indonesia
1.      Bentuk Pengembangan Pendidikan Multikultural di Indonesia
Pengembangan pendidikan multikultural di Indonesia dapat berbentuk :
a.        Penambahan materi multikultural
b.        Berbentuk bidang studi atau mata pelajaran yang bersifat sendiri
c.         Berbentuk program dan praktek terencana
d.        Pada wilayah kerja sekolah, pendidikan multikultural berarti suatu kurikulum yang berhubungan denagn pengalaman kerja etnis, program pengalaman multikultural, dan total school reform
e.        Gerakan persamaan
f.          Proses

2.      Asas-asas dalam Pendidikan Multikultural di Indonesia
a.        Asas wawasan nasional/kebangsaan (persatuan dalam perbedaan). Asas ini didasarkan pada konsep kenasionalan/kebangsaan
b.        Asas Bhineka Tunggal Ika (perbedaan dalam persatuan). Konsep ini menekankan keragaman dalam budaya yang menyatu dalam wilayah negara kita.
c.         Asas kesederajatan. Indonesia yang menghormati asas ini. Semua budaya dipandang sederajat, diakui dan dikembangkan dalam kesetaraan.
d.        Asas selaras, serasi dan seimbang. Semua budaya dikembangkan selaras dengan perkembangan masing-masing.
3.      Tiga Prinsip Penyusunan Program dalam Pendidikan Multikultural
a.        Pendidikan multikultural didasarkan pada pedagogik baru yaitu pedagogik berdasarkan kesetaraan manusia (equity pedagogy).
b.        Pendidikan multikultural ditujukan pada terwujudnya manusia yang berbudaya.
c.         Prinsip globalisasi budaya.

G.    Kesimpulan
1.      Pendidikan Multikultural dapat terlaksana dengan baik jika terdapat kerjasama yang baik antara masyarakat sendiri beserta pemerintah.
2.      Pendidikan Multikultural tidak dapat terlaksana jika hanya dilaksanakan oleh salah satu pihak saja.
3.      Pendidikan Multikultural di sekolah harus dapat dilaksanakan dengan baik dimulai dengan menstandardisasi kurikulum dan buku teks pelajaran agar tidak mengandung bias (kelas, agama, suku, gender, dan ras).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

anything about me

Foto Saya
simple girl | loves purple and white rose | adore to Twiight Saga